
Atambua - Warga perbatasan di Atambua sungguh ramah. Nikmatilah senyum mereka dikala kita blusukan ke Pasar Atambua.
Bagi para penggemar traveling, pasar di suatu destinasi selalu menjadi daerah yang menarik untuk melihat interaksi keseharian warga. Itu sebabnya meskipun bukan objek wisata, Pasar Atambua menarik untuk dikunjungi.
Tim Tapal Batas detikcom berkunjung ke Pasar Rakyat Atambua pada Rabu (29/3/2017) sore. Meski sore-sore, pasar rupanya tetap ramai. Kami tiba ke daerah penjualan daging. Sapi, babi, ikan tampak dijual di sini.
Saya berjumpa dengan Theodorus yang dengan besar hati memamerkan ikan tuna besar di lapaknya. Atambua juga kaya dengan sumber daya laut lantaran Kabupaten Belu berada di tepi laut.
Theodorus dan Ikannya (Fitraya Ramadhanny/detikTravel) |
Penjual lain berjulukan Kori menyampaikan Atambua menghasilkan banyak ikan. Dia mengangkat seekor ikan merah yang beliau jual. Uniknya, banyak juga ikan terbang (Exocoetus gibbosus) yang dijual di sini.
"Ini ikan Indosiar," kata Kori sambil diiyakan teman-temannya.
Saya jadi geli, teringat obrolan Presiden Jokowi dengan seorang nelayan perihal ikan Indosiar. Keramahan Pasar Atambua terasa dikala mereka melihat kami membawa kamera. Tidak ragu mereka bergaya, memamerkan ikan yang mereka jual.
Sinyal telekomunikasi bukan problem di sini. Mama-mama penjual sayur, terlihat asyik menelepon. Telkomsel menjadi provider yang mayoritas di Atambua. Tonton dulu deh video hiruk pikuk Pasar Rakyat Atambua, berikut ini:
Di sudut pasar yang lain, ialah daerah sayur mayur. Mata kita akan dimanjakan dengan sayur mayur yang berbeda dengan yang ada di Jawa, misalnya. Ada yang berjualan sirih dan pinang. Atau, sayuran yang bentuknya berbeda.
Warga Atambua suka pedas, favorit mereka ialah lombok alias cabai rawit dan lombok kecil alias cabai rawit yang lebih kecil lagi tapi pedas bukan main. Cabe ini dijual dalam piring-piring kecil harganya Rp 5.000.
Tomat di Atambua bentuknya lebih lonjong, bahkan ada tomat kampung yang bentuknya ibarat labu mini. Sementara ada homogen sayuran daun yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Ini pucuk labu, bila di Atambua selain buah labu, pucuk daun labunya juga kita makan. Biasanya ditumis," kata Mili, seorang ibu penjual sayur.
Tomat kampung di Pasar Atambua (Fitraya Ramadhanny/detikTravel) |
Pasar Rakyat Atambua juga berjualan kain tenun di cuilan pasar yang lain. Kain tenun ini kebanyakan buatan Suku Kemak dengan warna-warna yang menarik. Harganya bervariasi dari Rp 150 ribu hingga Rp 200.000. Sedangkan selendang tenun harganya Rp 20.000 hingga Rp 30.000. Cocok banget nih buat oleh-oleh!
Yuk kita tiba ke Pasar Rakyat Atambua. Selain dapat wisata belanja kain tenun, kau juga dapat berburu foto untuk Instagram lho. Jangan lupa untuk menikmati senyum dan tawa para pedagangnya.
Hiruk pikuk Pasar Rakyat Atambua (Fitraya Ramadhanny/detikTravel) |
Blusukan Ke Pasar Atambua, Menikmati Tawa Dan Senyuman
Reviewed by agus
on
3:46 AM
Rating:
Theodorus dan Ikannya (Fitraya Ramadhanny/detikTravel)
Tomat kampung di Pasar Atambua (Fitraya Ramadhanny/detikTravel)
Hiruk pikuk Pasar Rakyat Atambua (Fitraya Ramadhanny/detikTravel)
No comments: